Kamis, 18 April 2013



PERBEDAAAN RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN (2010-2014) DENGAN RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN EDISI REVISI 2011

Dwiki Alfikriyadi Lutfi
FAKUTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2013
Rencana strategis peternakan merupakan suatu program yang dilaksanakan oleh kementrian Pertanian, yang bertujuan untuk mecanangkan/memberikan gambaran hal apasaja yang nantinya akan berguna dalam kemajuan Peternakan Indonesia.  Proses penyusunan renstra diawali dengan penjaringan isu (eksternal dan internal), yang ditenggarai secara langsung akan mempengaruhi pencapaian hasil (outcome) dan keluaran (output) pelaksanaan program dan kegiatan. Tujuan renstra diharapkan esensi dan operasionalisasi program kegiatan yang dicakup didalam renstra dapat bersinergi dengan harapan dan keinginan stakeholders peternakan.

Perubahan isi renstra sendiri bertujuan untuk merevisi/memperbaiki rencana yang sudah dibuat sebelumnya. Unsure perubahan yang mencolok ialah pergantian nama instansi yang sebelumya bernama Direktorat Jenderal Peternakan dibawah pimpinan Dr. Ir. Tjeppy D. Soedjana, Msc, menjadi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dibawah pimpinan Ir. Syukur Iwantoro, MS, MBA tahun 2011.  Dibawah pemimpin dan system yang berbeda, maka prosedur yang berlaku juga berubah yang disesuaikan dengan kebutuhan yang berlaku saat ini.

Rencana strategis telah memuat bagian-bagian yang saling terkait satu sama lain yang menggambarkan proses penyusunannya.  Renstra lama memuat beberapa prosedur, antaralain : Pendahuluan; Potensi dan permasalahan; Visi, misi, Tujuan, dan Sasaran; Arah, Kebijakan Strategi; Program dan Kegiatan; Indikator Kinerja Program dan Kegiatan.  Namun kini program/prosedurnya telah direvisi menjadi beberapa penambahan dan pengurangan, yaitu : Pendahuluan; Visi, Misi, dan Nilai-nilai; Analisis Lingkungan Strategis (internal maupun eksternal); Tujuan dan Sasaran; dan Berbagai kegiatan menuju swasembada daging sapid an kerbau; Strategi Operasional; Pendanaan; dan Indikator Kinerja Program dan Kegiatan.

Tujuan pembuatan rencana strategis itu sndiri telah berubah, awalnya renstra ditujukan sebagai respon terhadap dinamika lingkungan strategis baik global maupun domestic, serta memperhatikan peternakan sebagai alat managerial untuk memelihara keberlanjutan dan perbaikan keinerja lembaga yang dituangkan dalam enam tujuan pokok renstra.  Kemudian tujuan itu bergeser kearah yang lebih difokuskan untuk merumuskan kebijakan dan standarisasi teknis bidang peternakan dan kesehatan hewan yang berbasis sumber daya lokal.

Perubahan/revisi utama yang harus disoroti terletak dibagian program yang akan dilaksanakan.  Pada renstra lama, program diarahkan ke bagian konsep dasar yang akan menunjang renstra itu sendiri.   Renstra lama difokuskan pada hal dasar yang berkaitan dengan pengambangan peternakan.  Bahasan lebih diarahkan pada materi dasar yang dilaksanakan secara runut dan detail.  Seperti permasalahan dibidang perunggasan, persusuan, serta kebijakan import Sapi Potong.  Selain tiu dibahas pula pradigma yang berkaitan dengan keberpihakan, sumberdaya manusia, serta investasi yang dilakukan.  Kemudian focus utama kegiatan diarahkan kepada sumberdaya lokal yang ada, terutama ternak yang sangat potensial untuk dikembangkan.

Rencana strategis versi terbaru memuat konsep yang lebih aplikatif dan diarahkan kepada suatu kegiatan yang lebih bernilai implementasi dari renstra yang sebelumnya telah dibuat.  Salahsatu contohnya ialah pada aspek penilaian secara SWOT yang dibahas lebih detail dan runut.  Pada aplikasi renstra itu sendiri, kini telah bekerja kearah yang lebih luas cakupannya, sehingga renstra versi terbaru telah bekerjasama dengan berbagai lembaga yang saling berhubungan, seperti: Kemendagri, Perindustrian, Perdagangan, Perhubungan, BUMN, dan lainnya, yang tentunya bertujuan untuk mempermudah jalannya program yang telah dicanangkan dalam rencana strategis itu sendiri.  Berbagai perguruan tinggipun kini telah diikutsertakan untuk menjalankan renstra pengembangan peternakan di Indonesia.

Pada renstra versi baru dan lama masih terdapat beberapa kesamaan, terutama Visai dan Misi.  Hal tersebut tentunya berguna dalam keberlanjutan dan kontinyuitas seluruh program renstra yang sebelumnya telah terprogramkan. Sehingga dapat berjalan secara berkesinambungan dan diharapkan akan terus berdampak positif terhadap perkembangan peternakan di Indosesia.

Rabu, 17 April 2013

SEJARAH MUNCULNYA HMPS RABBIT CONTEST (HRC) 2012



SEJARAH MUNCULNYA
HMPS RABBIT CONTEST (HRC) 2012

Latar Belakang
Kelinci merupakan salahsatu ternak yang memiliki keunikan tersendiri, dengan tingkat produktifitas yang terbilang tinggi tentunya menjadikan kelinci sebagai hewan yang bernilai profit.  Disamping itu, kelinci juga memiliki keunikan pada bentuk tubuh yang relatif enak dipandang,  postur tubuh, gerak-gerik, serta ukuran tubuh, menjadikan kelinci  termasuk ternak yang bernilai estetika/keindahan, sehingga menarik apabila dikonteskan.  Selain itu, jenis kelinci hias yang beragam membuat variasi kelinci untuk kontes semakin menarik.  Daya tarik tersebutlah yang melatarbelakangi adanya kontes kelinci. Selain dijadikan ajang penyaluran minat dan hobi, kelinci juga dapat dijadikan usaha yang bernilai profit dan menguntungkan.  Oleh karena itulah, kontes kelinci juga berguna untuk meningkatkan grade/standar kelinci tertentu.

Asal Mula Berdiri
Pertama kalinya kontes kelinci dilaksanakan atas dasar minat dan tantangan yang dirasakan oleh sekelompok mahasiswa jurusan, yang bernama Himpunan Mahasiswa Program Studi Peternakan (HMPS S1), Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman.  Ide mengadakan kontes kelinci tersebut diawali dengan adanya harapan untuk memajukan ternak lokal yang dapat dijadikan stimulus untuk meningkatkan gairah para peternak di daerah Banyumas.  Berbagai jenis ternakpun dirumuskan untuk dikonteskan, termasuk jenis ternak ruminansia dan non ruminansia, namun akhirnya ternak kelici yang dipilih untuk dikonteskan.  Setelah melalui waktu yang cukup panjang, terbentuk konsep real untuk melaksanakan kontes kelinci di sekitar Banyumas.  Hal tersebutlah yang melatarbelakangi penamaan kontes, yaitu “HMPS Rabbit Contest (HRC)”.
Berbagai persiapan dilakukan dengan matang disertai dengan kinerja yang nyata.  Berbagai permasalahanpun hilir mudik selalu ditemui, mulai dari keterbatasan modal, jenis kelinci yang diperlombakan, serta sistem penjurian yang berlaku.  Tantangan tersebut tidak lantas menjadi penghambat jalanya proses kontes kelinci, justru hal tersebut dijadikan motivasi oleh para panita sebagai tantangan yang harus dibuktikan dengan sebuah raihan kesuksesan. Singkat kata, akhirnya seluruh konsep telah matang dan HRC 2012 siap dilaksanakan dengan megah.

HRC Pertama
Akhirnya untuk pertamakali HRC dilaksanakan di Kampus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman.  Dengan konsep yang natural dan didasarkan pada kearifan lokal, HRC tersebut cukup menjadi daya tarik bagi para pecinta kelinci.  Kontes dilaksanakan di daerah karesidenan Banyumas, mencakup wilayah Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Kebumen, dan Tegal.  Peserta datang dengan penuh semangat dan antusias, hal tersebut dibuktikan dengan tingkat pendaftaran yang cukup tinggi.  Semula pendaftaran ditargetkan 50 ekor kelinci untuk lima kategori, yaitu English Angora, Fuzzy Lop, Rex, Flamish Giant dan Dutch, namun kenyataanya pendaftaran melebihi target yang ditetapkan.  Jumlah peserta yang resmi mengikuti konters sebanyak 68 ekor kelinci.  Hal tersebut menunjukan bahwa antusisme dari peserta cukup tinggi.
Kontes tersebut berjalan dengan lancar, dibuktikan dengan tanggapan positif dari para peserta, bahwa kontes harus dilaksanakan kembali tahun depan.  Hal tersebut disebabkan HRC sendiri memiliki daya tarik yang cukup tinggi, mulai dari hadiah yang diberikan, system penjurian, serta setifikasi yang dapat dijadikan modal bagi peternak tersebut.  Indikator lain untuk menentukan kesuksesan tersebut adalah jumlah penonton yang cukup membludak.  Walapun penjurian dilaksanakan terus menerus, ruang penjurian dan tempat show tidak pernah sepi dari penonton.  Hal tersbut merupakan bukti bahwa HRC tersebut berjalan dengan sukses.
Sejarah tersebut yang melatarbelakangi  pelaksanaan HRC Open 2013 ( Skala Nasional),  yang nantinya akan kembali membawa nama Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman ke kancah Nasonal ataupun Internasional.
“Dwiki Alfikriyadi Lutfi”

Jumat, 01 Maret 2013

Bertanya??? Yaa ItuPenting!!!

Bertanya???
Yaaa Itu Penting!!!

Melontarakan suatu pertanyaan merupakan suatu hal yang perlu disertai dengan keberanian. Pertanyaan diajukan untuk mengajukan sesuatu hal yang tidak diketahui. Namun bagi sebagian orang bertanya merupakan suatu yang ditakuti atau bahkan dianggap memalukan. Padahal pepatah saja mengatakan “ Malu bertanya sesat dijalan ” namun pepatah tersebut lambat laun berubah menjadi “banyak bertanya malu-maluin“. Begitulah sebagian orang memangggilnya. Tujuan dilontarkanya sebuah pertanyaan ialah untuk mengetahui suatu yang tidak diketahui. Misalnya ketika menguikuti kuliah yang materinya tidak dimengerti, ataupun bertanya untuk menanyakan suatu alamat. Namun dalam bertanyapun harus disertai kaidah-kaidah yang harus dipatuhi, seperti bertanya dengan nada yang rendah, tidak memaksa, dan dengan melihat situasi lingkungan sekitar.

Ketika masuk ke suatu daerah yang baru dikunjungi, pertanyaan merupakan hal yang wajib disertakan, sebab jika kita tidak bertanya maka yang terjadi adalah tersesat. Itulah pengalaman yang saya alami. Ketika saya mendatangi suatu daerah yang baru didatangi tanpa bimbingan orangtua. Ini sedikit cerita berdasarkan pengalaman yang telah saya dapatkan, yang benar-benar luar biasa.
Sore itu saya dan teman saya bersiap-siap untuk pergi ke sebuah acara besar yaitu Indolivestock 2012 yang bertempat Di Jakarta Convertion Center, Senayan. Malam itu seikitar pukul 19.00 kami berangkat dari kostan menuju terminal Purwokerto menggunakan motor . Ketika berangkat, kami sedikit tergesa-gesa sebab bus akan berangkat pada pukul 19.15. Namun apa yang terjadi, ketika kami bergegas ke terminal dengan buru-buru, yang terjadi adalah ban motor menggilas paku, alhasil motor yang kami tumpangi tersebut kempes. Kamipun kebingungan mencari keberadaan tukang tambal ban, akhirnya kami bertanya-tanya dan kampipun mendapat sebuah petunjuk. Sekitar 500 m saya mendorong motor untuk mencari tukang tambal ban. Alhamdulilah ketemu. Kami sedikit panik, sebab jam sudah menunjukan angka 19.15. kami pun memutar otak agar tidak tertinggal bis. Maka yang ada di otak kami ketika itu adalah memenjam motor.  Ya itu lah yang kami lakukan. Dengan modal pulsa yang seadanya kami meminta tolong teman untuk meminjamkan motornya kepada kami untuk dibawa ke terminal. Alhamdulilah kami sampai ke terminal dengan tepat waktu. Namun setelah kami bertanya kepada petugas terminal yang terjadi adalah bis yang kami tunggu ngaret sampai jam 20.00. Kami sangat kecewa, sebab saat itu kami sangat takut ketinggalan bis, namun disisi lain juga kami bersyukur sebab datng sebelum bis berangkat. Sejam kemudian kami berangkat ke Jakarta menggunakan bis dengan menempuh perjalanan sekitar 11 jam. Ya memang cukup lama waktu yang ditempuh untuk sampai di Jakarta.

Sesampainya Di Terminal Kampung Rambutan, kamipun kebingungan harus kemana, sebab waktu itu merupakan pertamakalinya datang menggunakan angkutan umum. Jam 05.30 kamipun beristirahat sejenak dan bertanya-tanya tentang arah yang harus ditempuh untuk sampai ke tempat tujuan, yaitu JCC Senayan. Akhirnya bermodal keberanian dan percayadiri, kamipun bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Langkah yang pertama kami tempuh adalah mencari Halte Busway terdekat, dan sesampainya disiana, kamipun kebingungan lagi. Dan apa yang kami lakukaan??yaaa bertanya lagi.

Yaa walaupun terkesan memalukan dan seperti orang yang kebingungan, kamipun tidak peduli, sebab hal itulah yang harus dilakukan. Jika tidak bertanya, bisa-bisa kami kesasar dan seharian hanya berputar-putar. Setelah mengajukan pertanyaan yang tidak terhitung jumlahnya, akhirnya kamipun sampai ke tempat acara pada pukul 09.00 WIB dengan selamat. Sesampainya ditempat tujuan, kamipun bingung lagi mencari lokasi pameran tersebut berada, dan apa yang kami lakukan? Yaaa bertanya lagi. Tak terhitung berapa banyak pertanyaan yang diajukan, namun pertanyaan itulah yang menjadi sumber kami mendapatkan hal-hal yang tidak kami ketahui.

Dalam acara tersebutpun saya tidak hentinya bertanya kepada seluruh peserta pameran industry peternakan yang memamerkan produk-produk andalanya. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan demi mengumpulkan sebanyak mungkin tentang perkembangan peternakan yang ada. Kemudian kami mengikuti sebuah Talk Show yang dinarasumberi oleh praktisi, akademisi, dan politisi. Acara tersebut bertemakan kampanye yang berisi ajakan untuk meningkatkan konsumsi susu untuk seluruh masyarakat. Akhirnya dalam sesi diskusi, sayapun mengajukan sebuah pertanyaan, yang menurut para narasumber itu bagus. Dan akhirnya dari pertanyaan yang saya ajukan tersebut saya mendapat hadih, sebagai balasan atas peretanyaan yang saya ajukan. Yaaa pertanyaanlah yang berjasa.
Setelah seharian mengikuti acara tersebut, kamipun bergegas pulang. Tujuan pertama adalah kembnali ke Terminal Kampung Rambutan untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Satria. Sesampainya di terminal, kami lupa bertanya tentang arah yang harus di ambil, akhirnya kami tertipu oleh calo terminal, sehingga ongkos yang harus dibayarpun meningkat menjadi 3 kali lipat. Yaaa kami tertipu. Namun tidak ada pilihan lain, kamipun meneruskan perjalanan. Setelah Kuranglebih 9 jam perjalanan ditempuh, akhinya kami kembali Ke Kota Purwokerto dengan selamat.
Dari pengalaman seharian tersebut, saya mendapatkan banyak manfaat yang tentunya tidak diperoleh begitu saja. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan, kami dapat melewati hari yang tadinya terasa gelap menjadi terang. Pertanyaanlah petunjuk jalan dari mulai berangkat sampai kembali lagi. Kemudian lewat pertanyaanlah saya mendapatkan hadih yang sebelumnya tidak saya harapkan. Itulah sedikit pengalaman saya tentang seuah kemauan yang disebut bertanya. Bertanya?? Yaa itu Penting!!

“Jika Kamu Tidak Tahu, Maka Tanyalah
Sebab Pertanyaan Adalah Sebuah Lintasan Yang Dapat Menuntun Arah Kita Melangkah”

Rabu, 09 Januari 2013

Haruskah Kutunggu Sampai Masa Itu?



Haruskah Kutunggu Sampai Masa Itu?

Pertanyaan tersebut mencuat dalam hati tatkala saya melihat kegiatan sholat berjamaah di mesjid dekat kostan, tempat dimana saya mengisi kegiatan selama berproses dalam bangku perkuliahan. Ketika saya melaksanakan sholat secara berjamaah, timbul suatu pertanyaan yang mencuat  dan ingin saya lontarkan, entah kepada siapa harus saya lontarkan pertanyaan ini. Ya “haruskah kutunggu sampai masa itu?”, masa dimana tubuh itu tidak terlalu kokoh lagi, masa dimana mata tidak lagi telalu jelas melihat, dan masa dimana detak nafas sedikit tersendat. Masa itu adalah masa tua kita, yang tentunya pasti semua manusia alami, yaaa tidak begitu lama jika dibandingkan dengan masa kehidupan akhirat kelak.
Pertanyaan tersebut terus mencuat dan entah harus kepada siapa saya utarakan, namun ketika saya berdiam dalam suatu renungan, sayapun bertanya kepada diri saya sendiri “apakah saya menunggu masa tua untuk menjadi seorang ahli mesjid? Kenapa harus menunggu masa itu? Apa masa mudamu yang menjadikan kamu malas pergi ke mesjid? Atau bahkan kesibukanmu sebagai seorang pemuda yang membuat kamu enggan pergi ke mesjid? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terlontar dari hati ini. Padahal menurut islam, melaksanakan sholat fardu secara berjamaah dan dilaksanakan di mesjid itu memiliki derajat sebesar 27, sedangkan jika dilaksanakan sendiri hanya memiliki 1 derajat. Tapi yaaaa realita sesungguhanya banyak sekali pemuda yang enggan melaksanakan solat di mesjid secara berjamaah, atau bahkan lebih parah lagi sebagian pemuda enggan untuk melaksanakan kewajibannya dengan berbagai alasan. Astagfirullah Haladziim,.
Menurut Islam amalan manusia yang paling pertama dihisab adalah sholat. Sholat akan menjadi penolong kita, kelak ketika masa perhitungan tiba. Kadar perbuatan baik akan dibandingkan dengan kadar perbuatan buruk kita. Oleh karena itu dalam suatu hadist disebutkan, “berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan”. Dari sinilah kenapa saya membahas tentang sholat yang dilaksanakan dirumah ataupun di mesjid. Jika itu memiliki manfaat dan keuntungan yang lebih besar, mengapa tidak kita untuk pergi ke mesjid dan sholat secara berjamaah?? Karena walaupun tatacara dan pelaksaanaannya sama, tapi esensinya tentu berbeda, dari segi pahalapun tentunya sholat berjamaah di mesjid lebih unggul ketimbang sholat sendiri di rumah. Dengan keunggulan tersebut tentunya akan menjadi tabungan dan bekal kita untuk menghadapi masa perhitungan kelak.

Sholat Berjamaah Yang Dilaksanakan Di Mushola Baitul Gufron

Realita Kejadian Yang Ditemui
Pengamatan yang saya dapati adalah pengisi dari mesjid itu adalah kaum lansia yang notabenya lebih dahulu lahir. Dalam suatu kegiatan sholat berjamaah yang dilaksanakan di mesji-mesjid di sekitar pemikiman penduduk, banyak dari jemaah adalah orang tua, dan hanya segelintir para pemuda. Bukan karena perbandingan orang tua lebih banyak dari pemuda, tetapi lebih kepada orientasi dan kesadaran dari dua golongan beda generasi tersebut.
Pandangan saya terhadap kedua generasi tersebut adalah perbedaan fokus dalam kegiatan sehari-hari. Orangtua/lansia cenderung melaksanakan sholat di mesjid dikarenakan beberapa faktor, antaralain ialah aktifitas yang sudah tidak terlalu penting/sibuk, pemahaman dan kesadaran tentang kewajiban semakin mendalam, serta faktor usia yang notabenya tidak banyak lagi (terus berkurang), sehingga cenderung akan digunakan untuk memeperbanyak ibadah di akhir hayatnya.

Seorang Kakek Yang Sedang Berdoa
Generasi muda memeiliki orientasi yang tentunya berbeda dengan generasi tua. Para pemuda cenderung sibuk dengan kegiatannya yang dianggap penting, sehingga sering melalaikan sholatnya. Selain itu juga ada yang beranggapa bahwa masa muda adalah masanya mengembangkan diri dan karir. Namun tidak benar jika kedua alasan tersebut digunakan untuk sebagai alasan yang logis. Sebab pada hakikatnya sholat merupakan kewajiban dan kebutuhan seluruh umat manusia untuk mengisi kebutuhan rohani dan jasmaninya. Sebab sholat merupakan cara kita berkomunikasi dengan sang pencipta. Tanpa itu maka kehidupan akan terasa hambar, dan khidupan tersebut seakan tidaklah berarti. Dengan melaksanakan seluruh kewajiaban dan meninggalkan seluruh larangan Allah SWT, maka kita akan tahu hakikat sesungguhanya kehidupan dunia ini.
Mesjid-mesjid di perkotaanpun tidaklah jauh berbeda. Cenderung pengisi mesjid tersebut berasal dari generasi tua dan dapat dikatogorikan sebagai lansia. Bangunan–bangunan mesjid yang besar dan kokoh kurang begitu menarik minat pemuda untuk memakburkannya. Dengan ukuran yang begitu besar, shaf yang terisi untuk sholatpun masih terbatas, dan dapat dihitung dengan jari. Beda halnya dengan mesjid dalam suatu pusat kegitan yang mesjidnya dapat ramai disambangi oleh para jemaah yang hendak bermunajah kepada Allah. Namun kita patut bersyukur dengan perkembangan Islam zaman sekaran. Bangunan-bangunan mesjid besar nan mewah hampir ditemui diseluruh daerah, tidak terkecuali di daerah pedesaan. Adzan-adzan akan saling bersahutan dan berkumandang ketika waktu sholat fardu datang. Kita perlu bersyukur dengan keadaan ini. Hal yang paling mudah kita lakukan adalah memakburkan mesjid-mesjid tersebut dengan melaksanakan sholat di mesjid secara berjamaah. Dengan demikian beberapa faedah dapat kita peroleh bersama-sama.
Jika ketika muda sudah menjadi seorang ahli ibadah, maka bekal untuk kehidupan kelakpun akan banyak. Dari segi kematangan emosionalpun ketika sudah tua akan semakin matang. Dengan menjalankan seluruh perintah Allah SWT, maka ketika masih berstatus seorang pemuda, akan mematangkan proses dalam pencarian jatidiri dimasa muda. Dengan kematangan  tersebut, kehidupan dunia ini akan lebih terarah dan insyaallah lebih baik.
Renungan
Yang diharapkan adalah kita mampu mengarungi kehidupan dunia ini dengan arah yang jelas dan lurus. Status bukanlah segalanya, umur setiap detik akan berkurang, hartapun bukanlah segalanya, semua yang kita miliki adalah sementara, yang Allah SWT pandang dari kita adalah amal perbuatan kita. Setiap detik hembusan nafas kita, mudah-mudahan dapat bernilai pahala, setiap ucap bibir kita hendaknya bernilai manfaat, dan setiap gerak langkah hati dan kaki kita selalu akan diarahkan ke jalan agama. Tak peduli itu muda, tua, perempuan, laki-laki, semuanya  butuh kemenangan. Kebaikan kita akan terbentuk oleh hati kita. Manfaatkan waktumu sebagaimana bulan memanfaatkan waktu malam agar terlihat indah. Ingat lima perkara, sebelum lima perkara. Ingat tua ketika kau masih muda, manfaatkan masa kuat, masa muda, masa penuh semangat untuk mengabdi kepada Sang Maha Mencinai. Tak ada kata terlambat untuk mulai, mari kita kerjakan bersama dan berakhir secara bersama.

Mudah-mudahan kita semua selalu Allah SWT beri petunjuk untuk mengarungi samudra kehidupan ini, apa yang selalu kita kerjakan bernilai ibadah disisi allah, dan seluruh amalan tersebut diterima sebagai syafaat/penolong kelak untuk menghadapi kehidupan yang paling abadi, yaitu kehidupan Akherat. Amiien.”